Sabtu, 16 Februari 2013

hadiah 100 cambukan


Di pelosok Khurasan ada seorang lelaki miskin hidup bersama istri dan kelima anaknya. 
Ia mendengar Khalifah membagi-bagikan santunan pada segenap rakyatnya yang miskin. 
Namun entah kenapa santunan itu tidak sampai kepadanya. Mungkin para petugas yang membagi santunan itu terlalu tamak sehingga santunan itu tidak sampai kepada yang berhak menerimanya.
Tiba-tiba melintas dalam fikirannya untuk menghadap Khalifah di ibu kota. 
Ia ingin meminta bantuan langsung dari raja. 
Bantuan itu sangat ia perlukan. 
Anaknya yang paling bungsu sedang sakit panas dan perlu dibawa ke tabib.
Akhirnya berangkatlah ia ke ibu kota dengan dengan menunggang keledai yang ia pinjam dari tetangganya. Ketika malam tiba ia menginap di sebuah Masjid di sebuah kota kecil tak jauh dari ibukota. 
Ia ingin istirahat sesaat, dan keesokan paginya hendak menghadap Khalifah.
Usai shalat Shubuh ia keluar dari Masjid dan mencari keledainya. 
Namun alangkah malangnya, keledainya itu tidak ada. Hatinya sedih bukan main. 
Siapa yang tega mencuri keledai yang dipinjamnya dari tetangganya? 
Alangkah teganya pencuri itu mengambil harta orang miskin yang hidup menderita.
Dengan langkah gontai ia menuju ke istana raja.
Begitu sampai di pintu gerbang istana seorang pengawal mencegatnya dan bertanya.

“Mau kamu apa?”
“Aku mau masuk menemui Khalifah”
“Ada perlu apa?”
“Aku dari sebuah kampong di Khurasan, aku mau minta bantuan dan santunan pada Khalifah.”
“Baiklah, aku mengizinkanmu menemui khalifah tapi dengan satu syarat!”
“Apa syaratnya?”
“Jika kau mendapatkan apa yang kau minta dari Khalifah kau harus memberinya setengahnya padaku! 
Jika tidak mau, maka kau tidak kuizinkan masuk.”
“Baiklah kalau begitu.”

Orang miskin itu masuk dengan hati yang pedih. 
Rakyat kecil seperti dirinya masih juga diperas terus menerus. 
Belum mendapatkan apa yang dia minta sudah diperas dengan semena-mena.
Akhirnya ia sampai di pintu kedua yang menghubungkan balairung istana. 
Ia hendak masuk, namun seorang penjaga mencegatnya dan menghardiknya dengan suara keras,

“Hei siapa kamu! Dan mau apa kamu?”
“Aku rakyat negeri ini dan aku mau masuk menemui Khalifah.”
“Apa perlumu?”
“Aku datang dari jauh mau minta bantuan dan santunan pada Khalifah.”
“Baiklah, aku mengizinkanmu menemui Khalifah tapi dengan satu syarat!”
“Apa syaratnya?”
“Jika kau mendapatkan apa yang kau minta dari Khalifah, kau harus memberinya setengahnya padaku! Jika tidak mau kau tidak kuizinkan masuk.
“Baiklah kalau begitu.”

Ia semakin pedih. 
Sungguh  pemerasan yang semena-mena. 
Jika  ia mendapatkan bantuan sepuluh dirham saja dari Khalifah maka ia akan keluar istana dengan tidak mendapatkan apa-apa. 
Sebab yang setengahnya akan diminta penjaga pertama dan yang setengahnya akan diminta penjaga kedua. 
Namun ia tetap melangkah masuk menemui Khalifah.
Begitu sampai, Khalifah langsung bertanya padanya, 

“Kau dari mana dan apa  keperluanmu?”
“Khalifah aku datang dari jauh. Dari pelosok Khurasan, aku datang ingin minta sesuatu dari Khalifah dan mohon  Khalifah mau mengabulkannya.”
“Apa permintaanmu, katakanlah. Kalau aku mampu aku akan mengabulkannya!”
“Khalifah, aku minta hukuman cambuk seratus kali!”
Terang saja Khalifah dan para menteri yang ada di situ terkejut mendengar permintaan aneh itu.
“Kenapa kau meminta hukuman? Kenapa mau menyakiti diri sendiri?” Tanya Khalifah.

Lelaki miskin itu lalu menceritakan keadaan keluarganya, perjalanannya, keledainya yang hilang dan para pengawal yang suka memeras dan meminta semena-mena.
Khalifah tersenyum mendengar penuturan lelaki msikin itu.

“Baiklah permintaanmu aku kabulkan dan setelah itu nanti kau akan kuberi hadiah khusus. 
Menteri, tolong panggil dua pengawal kurang ajar itu kemari sekarang juga!” kata Khalifah.

Tak lama kemudian dua pengawal itu datang dengan wajah gembira. 
Mereka membayangkan akan menerima hadiah dari khalifah atas permohonan lelaki miskin itu. 
Khalifah bertanya,

“Kalian kenal dengan lelaki ini?
“Ya, kami kenal, Baginda.” Jawab mereka serentak.
 “Dan ia berjanji akan memberikan setengah dari yang   
   didapatkannya dariku?”
“Ya, benar!”
“Baiklah kalian akan menerimanya. 
Ia datang meminta hukuman cambuk seratus kali. 
Kalian akan menerimanya masing-masing lima puluh kali!” 

Kedua pengawal itu meminta ampun kepada Khalifah. Namun Khalifah hanya berkata, 

“Karena kalian yang meminta maka kalian harus menerimanya. 
Dan lelaki ini telah menepati janjinya pada kalian! 
Maka jadi manusia jangan tamak!”

Akhirnya dua pengawal itu digiring ke alun-alun dan dicambuk sebanyak lima puluh kali disaksikan rakyat banyak. 
Dan orang-orang tertawa terpingkal-pingkal ketika mengetahui kisah kenapa dua pengawal itu dicambuk lima puluh kali, mereka sama sekali tidak kasihan tapi malah berkata,

“Rasakan sekarang, 
makanya jadi manusia jangan rakus dan tamak! 
Sudah mendapat gaji masih memotong hak orang lain!”

Sementara itu, lelaki miskin itu dipanggil kembali oleh Khalifah,

“Ini hadiah khusus yang aku janjikan padamu. 
Tiga ribu dinar. 
Yang dua ribu untuk dirimu dan keluargamu. 
Yang lima ratus berikan pada tetanggamu sebagai ganti keledainya yang kau hilangkan. 
Dan yang lima ratus lagi bagikan pada fakir miskin di kampungmu. 
Sekarang pergilah ke kandang istana, 
mintalah seekor kuda pada penjaga di sana. 
Kalau penjaga itu juga mau memerasmu seperti dua penjaga itu kembalilah kemari dan laporkan padaku, 
biar kuganjar dengan cambukan seratus kali!”

Lelaki miskin itu akhirnya pulang dengan hati gembira. 
Tidak lupa ia membeli baju dan makanan untuk anak dan istrinya. 

"Ia berharap semoga tidak ada lagi manusia tamak seperti dua penjaga itu. 
Mereka sudah digaji tapi masih tamak hendak mengambil harta orang lain secara lalim."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar