Tamamah Rohmatul Ula
Senin, 27 Februari 2017
Sabtu, 16 Februari 2013
hadiah 100 cambukan
Di pelosok Khurasan ada seorang lelaki miskin hidup bersama istri dan kelima anaknya.
Ia mendengar Khalifah membagi-bagikan santunan pada segenap rakyatnya yang miskin.
Namun
entah kenapa santunan itu tidak sampai kepadanya. Mungkin para petugas
yang membagi santunan itu terlalu tamak sehingga santunan itu tidak
sampai kepada yang berhak menerimanya.
Tiba-tiba melintas dalam fikirannya untuk menghadap Khalifah di ibu kota.
Ia ingin meminta bantuan langsung dari raja.
Bantuan itu sangat ia perlukan.
Anaknya yang paling bungsu sedang sakit panas dan perlu dibawa ke tabib.
Akhirnya
berangkatlah ia ke ibu kota dengan dengan menunggang keledai yang ia
pinjam dari tetangganya. Ketika malam tiba ia menginap di sebuah Masjid
di sebuah kota kecil tak jauh dari ibukota.
Ia ingin istirahat sesaat, dan keesokan paginya hendak menghadap Khalifah.
Usai shalat Shubuh ia keluar dari Masjid dan mencari keledainya.
Namun alangkah malangnya, keledainya itu tidak ada. Hatinya sedih bukan main.
Siapa yang tega mencuri keledai yang dipinjamnya dari tetangganya?
Alangkah teganya pencuri itu mengambil harta orang miskin yang hidup menderita.
Dengan langkah gontai ia menuju ke istana raja.
Begitu sampai di pintu gerbang istana seorang pengawal mencegatnya dan bertanya.
“Mau kamu apa?”
“Aku mau masuk menemui Khalifah”
“Ada perlu apa?”
“Aku dari sebuah kampong di Khurasan, aku mau minta bantuan dan santunan pada Khalifah.”
“Baiklah, aku mengizinkanmu menemui khalifah tapi dengan satu syarat!”
“Apa syaratnya?”
“Jika kau mendapatkan apa yang kau minta dari Khalifah kau harus memberinya setengahnya padaku!
Jika tidak mau, maka kau tidak kuizinkan masuk.”
“Baiklah kalau begitu.”
Orang miskin itu masuk dengan hati yang pedih.
Rakyat kecil seperti dirinya masih juga diperas terus menerus.
Belum mendapatkan apa yang dia minta sudah diperas dengan semena-mena.
Akhirnya ia sampai di pintu kedua yang menghubungkan balairung istana.
Ia hendak masuk, namun seorang penjaga mencegatnya dan menghardiknya dengan suara keras,
“Hei siapa kamu! Dan mau apa kamu?”
“Aku rakyat negeri ini dan aku mau masuk menemui Khalifah.”
“Apa perlumu?”
“Aku datang dari jauh mau minta bantuan dan santunan pada Khalifah.”
“Baiklah, aku mengizinkanmu menemui Khalifah tapi dengan satu syarat!”
“Apa syaratnya?”
“Jika
kau mendapatkan apa yang kau minta dari Khalifah, kau harus memberinya
setengahnya padaku! Jika tidak mau kau tidak kuizinkan masuk.
“Baiklah kalau begitu.”
Ia semakin pedih.
Sungguh pemerasan yang semena-mena.
Jika ia mendapatkan bantuan sepuluh dirham saja dari Khalifah maka ia akan keluar istana dengan tidak mendapatkan apa-apa.
Sebab yang setengahnya akan diminta penjaga pertama dan yang setengahnya akan diminta penjaga kedua.
Namun ia tetap melangkah masuk menemui Khalifah.
Begitu sampai, Khalifah langsung bertanya padanya,
“Kau dari mana dan apa keperluanmu?”
“Khalifah
aku datang dari jauh. Dari pelosok Khurasan, aku datang ingin minta
sesuatu dari Khalifah dan mohon Khalifah mau mengabulkannya.”
“Apa permintaanmu, katakanlah. Kalau aku mampu aku akan mengabulkannya!”
“Khalifah, aku minta hukuman cambuk seratus kali!”
Terang saja Khalifah dan para menteri yang ada di situ terkejut mendengar permintaan aneh itu.
“Kenapa kau meminta hukuman? Kenapa mau menyakiti diri sendiri?” Tanya Khalifah.
Lelaki
miskin itu lalu menceritakan keadaan keluarganya, perjalanannya,
keledainya yang hilang dan para pengawal yang suka memeras dan meminta
semena-mena.
Khalifah tersenyum mendengar penuturan lelaki msikin itu.
“Baiklah permintaanmu aku kabulkan dan setelah itu nanti kau akan kuberi hadiah khusus.
Menteri, tolong panggil dua pengawal kurang ajar itu kemari sekarang juga!” kata Khalifah.
Tak lama kemudian dua pengawal itu datang dengan wajah gembira.
Mereka membayangkan akan menerima hadiah dari khalifah atas permohonan lelaki miskin itu.
Khalifah bertanya,
“Kalian kenal dengan lelaki ini?
“Ya, kami kenal, Baginda.” Jawab mereka serentak.
“Dan ia berjanji akan memberikan setengah dari yang
didapatkannya dariku?”
“Ya, benar!”
“Baiklah kalian akan menerimanya.
Ia datang meminta hukuman cambuk seratus kali.
Kalian akan menerimanya masing-masing lima puluh kali!”
Kedua pengawal itu meminta ampun kepada Khalifah. Namun Khalifah hanya berkata,
“Karena kalian yang meminta maka kalian harus menerimanya.
Dan lelaki ini telah menepati janjinya pada kalian!
Maka jadi manusia jangan tamak!”
Akhirnya dua pengawal itu digiring ke alun-alun dan dicambuk sebanyak lima puluh kali disaksikan rakyat banyak.
Dan
orang-orang tertawa terpingkal-pingkal ketika mengetahui kisah kenapa
dua pengawal itu dicambuk lima puluh kali, mereka sama sekali tidak
kasihan tapi malah berkata,
“Rasakan sekarang,
makanya jadi manusia jangan rakus dan tamak!
Sudah mendapat gaji masih memotong hak orang lain!”
Sementara itu, lelaki miskin itu dipanggil kembali oleh Khalifah,
“Ini hadiah khusus yang aku janjikan padamu.
Tiga ribu dinar.
Yang dua ribu untuk dirimu dan keluargamu.
Yang lima ratus berikan pada tetanggamu sebagai ganti keledainya yang kau hilangkan.
Dan yang lima ratus lagi bagikan pada fakir miskin di kampungmu.
Sekarang pergilah ke kandang istana,
mintalah seekor kuda pada penjaga di sana.
Kalau penjaga itu juga mau memerasmu seperti dua penjaga itu kembalilah kemari dan laporkan padaku,
biar kuganjar dengan cambukan seratus kali!”
Lelaki miskin itu akhirnya pulang dengan hati gembira.
Tidak lupa ia membeli baju dan makanan untuk anak dan istrinya.
"Ia berharap semoga tidak ada lagi manusia tamak seperti dua penjaga itu.
Mereka sudah digaji tapi masih tamak hendak mengambil harta orang lain secara lalim."
Ketika Masjid dan Rumah Bordil Roboh
Ada dua lelaki bersaudara. Keduanya adalah saudara kandung. Lahir di dalam keluarga yang taat beragama. Namun perilaku dua orang itu berbeda dan akhir hidup mereka juga berbeda.
Yang tua, sejak kecil dikenal baik, alim dan ahli ibadah. Ia tidak suka menyakiti orang lain. Tidak suka hura-hura. Tak pernah menyentuh gelas minuman keras apalagi meminumnya. Waktu mudanya banyak dihabiskan di masjid. Ia juga tidak suka bergaul dengan wanita yang bukan mahramnya. Pernah ia dirayu seorang gadis cantik yang masih sepupunya, namun ia teguh dalam keimanannya. Karena amal perbuatannya yang baik dan akhlaknya ia dicintai oleh keluarga dan masyarakat.
Sedangkan adiknya, sangat berbeda dengan kakaknya. Sejak kecil ia dikenal nakal. Sejak remaja sudah biasa masuk tempat maksiat. Rumah bordil adalah tempat biasa ia mangkal. Hampir tiap hari ia mabuk dan melakukan pelbagai macam maksiat di rumah bordil miliknya itu. Kadang-kadang ia juga ikut gerombolan perampok, untuk merampas harta orang lain. Saat merampok ia bahkan terkadang juga melakukan pemerkosaan. Hampir segala jenis maksiat dan perbuatan yang menjijikan telah ia lakukan untuk memuaskan hawa nafsunya. Perbuatan jahatnya itu membuat dirinya dibenci oleh keluarga dan masyarakat.
Suatu ketika, sang kakak yang alim dan ahli ibadah merenung. Tiba-tiba dengan halus sekali nafsunya berkata padanya,
“Sejak kecil kau selalu berbuat kebaikan dan beribadah. Kau telah mendapat tempat di hati masyarakat dan dikenal sebagai orang baik. Namun kau tidak pernah merasakan nikmatnya hidup sedikitpun. Kenapa tidak sesekali kau datang ke tempat adikmu menghibur diri di rumah bordilnya. Sesekali saja. Setelah itu kau bisa tobat. Kau bisa membaca istighfar ribuan kali dalam sholat tahujjud. Bukankah Allah itu Maha Pengampun ?”
Bujukan hawa nafsunya itu ternyata masuk dalam pikirannya. Setan pun dengan sangat halus masuk melalui pori-pori dan aliran darah. Ia berkata pada diri sendiri, “Benar juga. Kenapa aku tidak sesekali menghibur diri ? Hidup cuma sekali. Nanti malam aku mau menari dan bersenang-senang bersama wanita cantik di rumah bordil adikku. Setelah itu aku pulang dan bertobat kepada Allah Swt. Dia Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.”
Sementara di rumah bordil. Adiknya juga merenung. Ia merasa jenuh dengan hidup yang dijalaninya. Nuraninya berkata,
“Sudah bertahun-tahun aku hidup bergelimang dosa. Bermacam maksiat telah aku lakukan. Apakah aku akan hidup begini terus? Keluarga membenciku karena perbuatanku. Juga masyarakat, mereka memusuhiku karena kejahatanku. Kenapa aku tidak mencoba hidup baik-baik seperti kakak. Ah, bagaimanakah besok kalau aku telah mati. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan perbuatanku. Kalau begini terus kelak aku akan masuk neraka. Hidup susah di akhirat sana. Sementara kakakku akan hidup nikmat di surga. Tidak! Aku tidak boleh hidup dalam lembah maksiat terus. Aku harus mencoba hidup di jalan yang lurus. Nanti malam habis maghrib aku akan ke masjid tempat kakak beribadah. Aku mau tobat dan ikut shalat. Aku mau kembali ke pangkuan Allah Swt. Aku mau beribadah sepanjang sisa hidupku. Semoga saja Allah mau mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu.”
Dan benarlah. Ketika malam datang kedua saudara itu melakukan niatnya masing-masing. Usai shalat maghrib, sang kakak kembali ke rumah, ganti pakaian dan bergegas menuju rumah bordil. Adapun sang adik, telah pergi meninggalkan rumah bordil begitu mendengar suara azan maghrib. Jalan yang diambil dua bersaudara itu tidak sama, sehingga keduanya tidak berjumpa di tengah jalan.
Sampai di rumah bordil sang kakak mencari adiknya. Namun tidak ada. Orang-orang yang ada di rumah bordil tidak ada yang tahu kemana adiknya itu pergi. Meskipun adiknya tidak ada ia tetap melaksanakan niatnya. Nafsu telah menguasai akal pikirannya. Ia pun menuruti segala yang diinginkan nafsunya di rumah bordil itu bersama para penari dan pelacur.
Di tempat lain, sang adik sampai masjid tempat kakaknya biasa ibadah. Ia sudah bertekad bulat untuk tobat meninggalkan semua perbuatan buruknya. Ia mengambil air wudhu dan masuk ke dalam masjid. Ia mencari-cari kakaknya, ternyata tidak ada. Padahal biasanya kakaknya selalu beritikaf di masjid usai maghrib sampai isya. Ia bertanya pada penjaga masjid, namun ia tidak tahu kemana perginya. Meskipun tidak ada kakaknya niatnya telah bulat. Ia melakukan shalat dan beristighfar sebanyak-banyaknya dengan mata bercucuran air mata.
Tiba-tiba bumi tergoncang dengan hebatnya.
“Awas ada gempa ! Ada gempa !” teriak orang-orang di jalan.
Orang-orang panik keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. Takut kalau-kalau rumah mereka runtuh. Sang adik yang sedang larut dalam kenikmatan tobatnya tidak beranjak dari dalam masjid. Ia tidak merasakan ada gempa. Demikian juga sang kakak yang saat itu sedang terlena di rumah bordil. Ia sama sekali tidak merasakan gempa. Goncangan gempa malam itu cukup keras. Beberapa bangunan roboh. Termasuk masjid dan rumah bordil.
Keesokan harinya. Sang kakak ditemukan tewas diantara reruntuhan rumah bordil di samping mayat seorang penari wanita dalam keadaan yang memalukan. Sedangkan adiknya juga ditemukan tewas di antara reruntuhan masjid. Kedua tangannya mendekap sebuah mushaf di dada.
Masyarakat yang tahu ihwal kedua kakak beradik itu meneteskan air mata. Mereka tidak habis pikir, orang yang selama ini dikenal ahli ibadah kok bisa tewas dengan cara yang sedemikian tragisnya. Sedangkan adiknya yang selama ini dikenal ahli maksiat kok bisa husnul khatimah. Dengan peristiwa itu orang-orang diberi pelajaran yang sangat berharga. Bahwa kematian bisa datang kapan saja. Hanya Allah yang tahu. Maka jangan sekali-kali iseng menuruti hawa nafsu. Siapa tahu saat sedang menuruti hawa nafsu itulah maut menjemput. Na’udzubillahi min dzalik. Bahwa niat baik harus selalu dijaga, agar Allah Swt menganugerahkan akhir hidup yang indah. Akhir hidup yang diridhai-Nya.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keteguhan dan keistiqomahan berada dalam jalan-Mu. Karuniakanlah kepada kami husnul khatimah. Amin, ya Rabbal ‘Alamin.”
Ada dua lelaki bersaudara. Keduanya adalah saudara kandung. Lahir di dalam keluarga yang taat beragama. Namun perilaku dua orang itu berbeda dan akhir hidup mereka juga berbeda.
Yang tua, sejak kecil dikenal baik, alim dan ahli ibadah. Ia tidak suka menyakiti orang lain. Tidak suka hura-hura. Tak pernah menyentuh gelas minuman keras apalagi meminumnya. Waktu mudanya banyak dihabiskan di masjid. Ia juga tidak suka bergaul dengan wanita yang bukan mahramnya. Pernah ia dirayu seorang gadis cantik yang masih sepupunya, namun ia teguh dalam keimanannya. Karena amal perbuatannya yang baik dan akhlaknya ia dicintai oleh keluarga dan masyarakat.
Sedangkan adiknya, sangat berbeda dengan kakaknya. Sejak kecil ia dikenal nakal. Sejak remaja sudah biasa masuk tempat maksiat. Rumah bordil adalah tempat biasa ia mangkal. Hampir tiap hari ia mabuk dan melakukan pelbagai macam maksiat di rumah bordil miliknya itu. Kadang-kadang ia juga ikut gerombolan perampok, untuk merampas harta orang lain. Saat merampok ia bahkan terkadang juga melakukan pemerkosaan. Hampir segala jenis maksiat dan perbuatan yang menjijikan telah ia lakukan untuk memuaskan hawa nafsunya. Perbuatan jahatnya itu membuat dirinya dibenci oleh keluarga dan masyarakat.
Suatu ketika, sang kakak yang alim dan ahli ibadah merenung. Tiba-tiba dengan halus sekali nafsunya berkata padanya,
“Sejak kecil kau selalu berbuat kebaikan dan beribadah. Kau telah mendapat tempat di hati masyarakat dan dikenal sebagai orang baik. Namun kau tidak pernah merasakan nikmatnya hidup sedikitpun. Kenapa tidak sesekali kau datang ke tempat adikmu menghibur diri di rumah bordilnya. Sesekali saja. Setelah itu kau bisa tobat. Kau bisa membaca istighfar ribuan kali dalam sholat tahujjud. Bukankah Allah itu Maha Pengampun ?”
Bujukan hawa nafsunya itu ternyata masuk dalam pikirannya. Setan pun dengan sangat halus masuk melalui pori-pori dan aliran darah. Ia berkata pada diri sendiri, “Benar juga. Kenapa aku tidak sesekali menghibur diri ? Hidup cuma sekali. Nanti malam aku mau menari dan bersenang-senang bersama wanita cantik di rumah bordil adikku. Setelah itu aku pulang dan bertobat kepada Allah Swt. Dia Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.”
Sementara di rumah bordil. Adiknya juga merenung. Ia merasa jenuh dengan hidup yang dijalaninya. Nuraninya berkata,
“Sudah bertahun-tahun aku hidup bergelimang dosa. Bermacam maksiat telah aku lakukan. Apakah aku akan hidup begini terus? Keluarga membenciku karena perbuatanku. Juga masyarakat, mereka memusuhiku karena kejahatanku. Kenapa aku tidak mencoba hidup baik-baik seperti kakak. Ah, bagaimanakah besok kalau aku telah mati. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan perbuatanku. Kalau begini terus kelak aku akan masuk neraka. Hidup susah di akhirat sana. Sementara kakakku akan hidup nikmat di surga. Tidak! Aku tidak boleh hidup dalam lembah maksiat terus. Aku harus mencoba hidup di jalan yang lurus. Nanti malam habis maghrib aku akan ke masjid tempat kakak beribadah. Aku mau tobat dan ikut shalat. Aku mau kembali ke pangkuan Allah Swt. Aku mau beribadah sepanjang sisa hidupku. Semoga saja Allah mau mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu.”
Dan benarlah. Ketika malam datang kedua saudara itu melakukan niatnya masing-masing. Usai shalat maghrib, sang kakak kembali ke rumah, ganti pakaian dan bergegas menuju rumah bordil. Adapun sang adik, telah pergi meninggalkan rumah bordil begitu mendengar suara azan maghrib. Jalan yang diambil dua bersaudara itu tidak sama, sehingga keduanya tidak berjumpa di tengah jalan.
Sampai di rumah bordil sang kakak mencari adiknya. Namun tidak ada. Orang-orang yang ada di rumah bordil tidak ada yang tahu kemana adiknya itu pergi. Meskipun adiknya tidak ada ia tetap melaksanakan niatnya. Nafsu telah menguasai akal pikirannya. Ia pun menuruti segala yang diinginkan nafsunya di rumah bordil itu bersama para penari dan pelacur.
Di tempat lain, sang adik sampai masjid tempat kakaknya biasa ibadah. Ia sudah bertekad bulat untuk tobat meninggalkan semua perbuatan buruknya. Ia mengambil air wudhu dan masuk ke dalam masjid. Ia mencari-cari kakaknya, ternyata tidak ada. Padahal biasanya kakaknya selalu beritikaf di masjid usai maghrib sampai isya. Ia bertanya pada penjaga masjid, namun ia tidak tahu kemana perginya. Meskipun tidak ada kakaknya niatnya telah bulat. Ia melakukan shalat dan beristighfar sebanyak-banyaknya dengan mata bercucuran air mata.
Tiba-tiba bumi tergoncang dengan hebatnya.
“Awas ada gempa ! Ada gempa !” teriak orang-orang di jalan.
Orang-orang panik keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. Takut kalau-kalau rumah mereka runtuh. Sang adik yang sedang larut dalam kenikmatan tobatnya tidak beranjak dari dalam masjid. Ia tidak merasakan ada gempa. Demikian juga sang kakak yang saat itu sedang terlena di rumah bordil. Ia sama sekali tidak merasakan gempa. Goncangan gempa malam itu cukup keras. Beberapa bangunan roboh. Termasuk masjid dan rumah bordil.
Keesokan harinya. Sang kakak ditemukan tewas diantara reruntuhan rumah bordil di samping mayat seorang penari wanita dalam keadaan yang memalukan. Sedangkan adiknya juga ditemukan tewas di antara reruntuhan masjid. Kedua tangannya mendekap sebuah mushaf di dada.
Masyarakat yang tahu ihwal kedua kakak beradik itu meneteskan air mata. Mereka tidak habis pikir, orang yang selama ini dikenal ahli ibadah kok bisa tewas dengan cara yang sedemikian tragisnya. Sedangkan adiknya yang selama ini dikenal ahli maksiat kok bisa husnul khatimah. Dengan peristiwa itu orang-orang diberi pelajaran yang sangat berharga. Bahwa kematian bisa datang kapan saja. Hanya Allah yang tahu. Maka jangan sekali-kali iseng menuruti hawa nafsu. Siapa tahu saat sedang menuruti hawa nafsu itulah maut menjemput. Na’udzubillahi min dzalik. Bahwa niat baik harus selalu dijaga, agar Allah Swt menganugerahkan akhir hidup yang indah. Akhir hidup yang diridhai-Nya.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keteguhan dan keistiqomahan berada dalam jalan-Mu. Karuniakanlah kepada kami husnul khatimah. Amin, ya Rabbal ‘Alamin.”
TUBUH SEHARUM KESTURI
Ini adalah kisah ketakwaan seorang pemuda. Seorang pemuda yang bekerja sebagai penjual kain keliling. Ia berkeliling dari satu daerah ke daerah. Dari satu kawasan ke kawasan lain. Dari lorong ke lorong. Dari rumah ke rumah. Ia berkeliling sambil memanggul kain dagangannya. Akhirnya masyarakat mengenalnya sebagai Si Penjual Kain Keliling.
Diantara kelebihan pemuda ini adalah postur tubuhnya yang gagah. Kulitnya yang putih. Wajahnya yang mempesona. Dan keramahannya yang luar biasa. Sehingga siapapun yang melihatnya akan terpesona karenanya. Itulah karunia Allah yang dianugerahkan kepadanya.
Suatu hari, ketika ia sedang berkeliling menjajakan dagangannya, tiba-tiba ada seorang wanita memanggilnya. Ia pun segera menghampiri. Wanita ini menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Rumah itu sangat mewah. Agaknya wanita itu termasuk golongan bangsawan. Begitu masuk rumah, dengan sebuah kelihaian wanita itu bisa mengunci pintu. Wanita itu sangat terpesona dengan ketampanannya. Wanita itu telah lama tergila-gila padanya. Sudah berkali-kali diam-diam wanita itu memandangi ketampanannya ketika pemuda itu lewat di depan rumahnya.
Wanita itu berkata, “Duhai pemuda tampan. Sebenarnya aku memanggilmu tidak untuk membeli barang daganganmu, tapi semata karena aku sangat mencintaimu. Selama ini aku tergila-gila pada ketampananmu.”
Pada saat itu, tak ada seorang pun didalam rumah selain mereka berdua. Wanita bangsawan itu dengan penuh harap merayunya untuk berzina. Sang pemuda pun mengingatkannya dan menakutinya akan pedihnya siksa Allah. Namun, semua usahanya sia-sia belaka. Setiap perkataan yang diucapkan pemuda itu justru membuat wanita itu semakin menggila dan nekat. Wanita itu justru semakin tertantang untuk menaklukkan pemuda itu. Namun pemuda itu tak bergeming dengan keimanannya. Ia menolak dengan tegas.
Karena sang pemuda tetap saja menolak, wanita itu mengancam, “Jika kamu tidak menurut apa yang kuperintahkan, aku akan berteriak sekeras-kerasnya dan mengatakan kepada orang-orang bahwa ada orang yang masuk kerumahku dan ingin memperkosaku. Mereka pasti mempercayai ucapanku karena kedudukanku dan karena kamu telah memasuki rumahku. Akibatnya kamu akan binasa. Kau akan dianggap penjahat paling nista. Dan orang-orang itu bisa marah dan menggantungmu hidup-hidup ! “
Wanita itu mengancam dengan serius. Pemuda itu terus berfikir bagaimana mencari jalan keluar. Ia tak mau maksiat tapi juga tak mau mengalami hal yang konyol. Diserapahi orang banyak sebagai penjahat lalu digantung tanpa ampun, sungguh hal yang sangat menyakitkan. Beberapa detik kemudian sekonyong-konyong terbitlah ide nekatnya. Terkadang tindakan nekat harus dilawan dengan nekat juga. Sambil tersenyum ia berkata, “Baiklah. Bolehkah aku ke kamar mandi untuk bersih-bersih dahulu ? Lihatlah tubuhku penuh dengan peluh yang baunya tidak sedap ! “
Begitu mendengar ucapannya, wanita tersebut sangat gembira karena mengira ia akan menuruti keinginannya dan berkata dengan hati meluapkan kegembiraan, “O tentu saja boleh, aduhai kekasihku dan belahan jiwaku. Sungguh ini adalah kesempatan luar biasa.”
Sang pemuda pun segera masuk ke kamar mandi, ia mengatakan itu tadi sekedar untuk menyelamatkan diri sesaat. Mencari tempat yang tenang untuk berfikir. Sampai di dalam kamar mandi tubuhnya gemetar karena takut terjatuh pada kemaksiatan. Wanita adalah perangkap setan. Tak ada seorang laki-laki dan wanita yang berduaan, kecuali ada yang ketiga adalah setan. Demikianlah sabda Rasulullah Saw.
Ia pasrah kepada Allah. Ya Allah, apa yang mesti aku lakukan ? Berilah hamba-Mu petunjuk ya Allah. Tiba-tiba tercetus sesuatu dalam fikirannya, ia bergumam, “Aku tahu pasti, diantara golongan yang akan mendapatkan naungan pada hari tidak ada naungan lagi di hari kiamat adalah seorang pemuda yang diajak berzina oleh seorang wanita cantik dan berkedudukan, lalu ia mengatakan, ‘Sungguh aku takut pada Allah !’ Aku juga tahu bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut pada Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Tidak sedikit orang yang menurutkan hawa nafsunya, maka ia akan membawa penyesalan sampai akhir hayatnya. Jika aku lakukan kemaksiatan ini, Allah akan menghilangkan cahaya dan kenikmatan dari hatiku. Duhai Tuhan, tidak, tidak ! Sekali-kali aku tidak akan melakukannya ! Tapi apa yang bisa aku perbuat ? Apakah aku harus loncat dari jendela ? hal itu tidaklah mungkin karena jendela ini terkunci sangat kuat dan sulit sekali membukanya. Kalau begitu aku harus melumuri tubuhku dengan kotoran. Ya aku harus melumuri tubuhku dengan kotoran. Semoga jika ia melihatku seperti itu, ia akan merasa jijik lalu mengusirku.”
Benar saja, ia lalu buang air besar dan melumuri seluruh tubuhnya dengan kotoran buang air besarnya. Seluruh rambutnya, mukanya, dada, tangan, dan semuanya. Ia sendiri sebenarnya merasa jijik. Bahkan ia mual dan sempat muntah. Sambil menangis ia berkata, “Ya Allah ya Rabbi, karena rasa takutku pada-Mulah aku melakukan ini ! maka gantikanlah untukku yang lebih baik.”
Lalu iapun keluar dari kamar mandi. Dan begitu wanita tersebut melihatnya ia terkejut bukan main. Ia merasa jijik. Ia menjerit dan berteriak dengan keras, “Keluarlah, hai orang gila ! Dasar pemuda gila, keluar kau jangan kau kotori rumahku.”
Ia berjalan keluar dan berpura-pura bertingkah laku seperti orang gila. Begitu sampai diluar ia cepat-cepat cari tempat yang aman. Ia takut dilihat orang dan takut mereka akan menggunjingnya. Jika itu yang terjadi barang dagangannya bisa tidak laku, karena ia akan dianggap benar-benar gila. Beberapa orang yang melihatnya terheran-heran dan menertawakannya. Ia terus berjalan menuju rumahnya lewat jalan yang sepi. Ia merasa sangat lega ketika sampai dirumahnya. Ia langsung melepas pakaiannya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, Allah SWT menunjukkan kekuasan-Nya. Allah menjadikan bau harum yang luar biasa memancar dari seluruh pori-pori tubuhnya hingga ajal menjemputnya. Bau itu tercium dari jarak beberapa meter. Akhirnya ia dikenal dengan sebutan “Al-Miski” atau Orang Yang Seharum Kesturi.
Kisah ini menjadi bukti keagungan Allah. Kisah nyata ini masih bisa dilihat bekasnya. Di tanah Syam, ada sebuah makam yang tertuliskan “Al-Miski”.
Itulah kubur orang mulia yang menjaga kesuciannya ini.
Ini adalah kisah ketakwaan seorang pemuda. Seorang pemuda yang bekerja sebagai penjual kain keliling. Ia berkeliling dari satu daerah ke daerah. Dari satu kawasan ke kawasan lain. Dari lorong ke lorong. Dari rumah ke rumah. Ia berkeliling sambil memanggul kain dagangannya. Akhirnya masyarakat mengenalnya sebagai Si Penjual Kain Keliling.
Diantara kelebihan pemuda ini adalah postur tubuhnya yang gagah. Kulitnya yang putih. Wajahnya yang mempesona. Dan keramahannya yang luar biasa. Sehingga siapapun yang melihatnya akan terpesona karenanya. Itulah karunia Allah yang dianugerahkan kepadanya.
Suatu hari, ketika ia sedang berkeliling menjajakan dagangannya, tiba-tiba ada seorang wanita memanggilnya. Ia pun segera menghampiri. Wanita ini menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Rumah itu sangat mewah. Agaknya wanita itu termasuk golongan bangsawan. Begitu masuk rumah, dengan sebuah kelihaian wanita itu bisa mengunci pintu. Wanita itu sangat terpesona dengan ketampanannya. Wanita itu telah lama tergila-gila padanya. Sudah berkali-kali diam-diam wanita itu memandangi ketampanannya ketika pemuda itu lewat di depan rumahnya.
Wanita itu berkata, “Duhai pemuda tampan. Sebenarnya aku memanggilmu tidak untuk membeli barang daganganmu, tapi semata karena aku sangat mencintaimu. Selama ini aku tergila-gila pada ketampananmu.”
Pada saat itu, tak ada seorang pun didalam rumah selain mereka berdua. Wanita bangsawan itu dengan penuh harap merayunya untuk berzina. Sang pemuda pun mengingatkannya dan menakutinya akan pedihnya siksa Allah. Namun, semua usahanya sia-sia belaka. Setiap perkataan yang diucapkan pemuda itu justru membuat wanita itu semakin menggila dan nekat. Wanita itu justru semakin tertantang untuk menaklukkan pemuda itu. Namun pemuda itu tak bergeming dengan keimanannya. Ia menolak dengan tegas.
Karena sang pemuda tetap saja menolak, wanita itu mengancam, “Jika kamu tidak menurut apa yang kuperintahkan, aku akan berteriak sekeras-kerasnya dan mengatakan kepada orang-orang bahwa ada orang yang masuk kerumahku dan ingin memperkosaku. Mereka pasti mempercayai ucapanku karena kedudukanku dan karena kamu telah memasuki rumahku. Akibatnya kamu akan binasa. Kau akan dianggap penjahat paling nista. Dan orang-orang itu bisa marah dan menggantungmu hidup-hidup ! “
Wanita itu mengancam dengan serius. Pemuda itu terus berfikir bagaimana mencari jalan keluar. Ia tak mau maksiat tapi juga tak mau mengalami hal yang konyol. Diserapahi orang banyak sebagai penjahat lalu digantung tanpa ampun, sungguh hal yang sangat menyakitkan. Beberapa detik kemudian sekonyong-konyong terbitlah ide nekatnya. Terkadang tindakan nekat harus dilawan dengan nekat juga. Sambil tersenyum ia berkata, “Baiklah. Bolehkah aku ke kamar mandi untuk bersih-bersih dahulu ? Lihatlah tubuhku penuh dengan peluh yang baunya tidak sedap ! “
Begitu mendengar ucapannya, wanita tersebut sangat gembira karena mengira ia akan menuruti keinginannya dan berkata dengan hati meluapkan kegembiraan, “O tentu saja boleh, aduhai kekasihku dan belahan jiwaku. Sungguh ini adalah kesempatan luar biasa.”
Sang pemuda pun segera masuk ke kamar mandi, ia mengatakan itu tadi sekedar untuk menyelamatkan diri sesaat. Mencari tempat yang tenang untuk berfikir. Sampai di dalam kamar mandi tubuhnya gemetar karena takut terjatuh pada kemaksiatan. Wanita adalah perangkap setan. Tak ada seorang laki-laki dan wanita yang berduaan, kecuali ada yang ketiga adalah setan. Demikianlah sabda Rasulullah Saw.
Ia pasrah kepada Allah. Ya Allah, apa yang mesti aku lakukan ? Berilah hamba-Mu petunjuk ya Allah. Tiba-tiba tercetus sesuatu dalam fikirannya, ia bergumam, “Aku tahu pasti, diantara golongan yang akan mendapatkan naungan pada hari tidak ada naungan lagi di hari kiamat adalah seorang pemuda yang diajak berzina oleh seorang wanita cantik dan berkedudukan, lalu ia mengatakan, ‘Sungguh aku takut pada Allah !’ Aku juga tahu bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut pada Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Tidak sedikit orang yang menurutkan hawa nafsunya, maka ia akan membawa penyesalan sampai akhir hayatnya. Jika aku lakukan kemaksiatan ini, Allah akan menghilangkan cahaya dan kenikmatan dari hatiku. Duhai Tuhan, tidak, tidak ! Sekali-kali aku tidak akan melakukannya ! Tapi apa yang bisa aku perbuat ? Apakah aku harus loncat dari jendela ? hal itu tidaklah mungkin karena jendela ini terkunci sangat kuat dan sulit sekali membukanya. Kalau begitu aku harus melumuri tubuhku dengan kotoran. Ya aku harus melumuri tubuhku dengan kotoran. Semoga jika ia melihatku seperti itu, ia akan merasa jijik lalu mengusirku.”
Benar saja, ia lalu buang air besar dan melumuri seluruh tubuhnya dengan kotoran buang air besarnya. Seluruh rambutnya, mukanya, dada, tangan, dan semuanya. Ia sendiri sebenarnya merasa jijik. Bahkan ia mual dan sempat muntah. Sambil menangis ia berkata, “Ya Allah ya Rabbi, karena rasa takutku pada-Mulah aku melakukan ini ! maka gantikanlah untukku yang lebih baik.”
Lalu iapun keluar dari kamar mandi. Dan begitu wanita tersebut melihatnya ia terkejut bukan main. Ia merasa jijik. Ia menjerit dan berteriak dengan keras, “Keluarlah, hai orang gila ! Dasar pemuda gila, keluar kau jangan kau kotori rumahku.”
Ia berjalan keluar dan berpura-pura bertingkah laku seperti orang gila. Begitu sampai diluar ia cepat-cepat cari tempat yang aman. Ia takut dilihat orang dan takut mereka akan menggunjingnya. Jika itu yang terjadi barang dagangannya bisa tidak laku, karena ia akan dianggap benar-benar gila. Beberapa orang yang melihatnya terheran-heran dan menertawakannya. Ia terus berjalan menuju rumahnya lewat jalan yang sepi. Ia merasa sangat lega ketika sampai dirumahnya. Ia langsung melepas pakaiannya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, Allah SWT menunjukkan kekuasan-Nya. Allah menjadikan bau harum yang luar biasa memancar dari seluruh pori-pori tubuhnya hingga ajal menjemputnya. Bau itu tercium dari jarak beberapa meter. Akhirnya ia dikenal dengan sebutan “Al-Miski” atau Orang Yang Seharum Kesturi.
Kisah ini menjadi bukti keagungan Allah. Kisah nyata ini masih bisa dilihat bekasnya. Di tanah Syam, ada sebuah makam yang tertuliskan “Al-Miski”.
Itulah kubur orang mulia yang menjaga kesuciannya ini.
Rabu, 21 November 2012
ketika cinta berbuah surga
Di tanah Kurdistan , ada seorang raja
yang adil dan shalih. Dia
memiliki seorang anak laki-laki yang
tampan, cerdas, dan pemberani.
Saat-saat paling menyenangkan bagi
sang raja adalah ketika dia
mengajari anaknya itu membaca
Al-Quran. Sang raja juga menceritakan
kepadanya kisah-kisah kepahlawanan
para panglima dan tentaranya di
medan pertempuran. Anak raja yang
bernama Said itu, sangat gembira
mendengar penuturan kisah ayahnya. Si
kecil Said akan merasa jengkel
jika di tengah-tengah ayahnya
bercerita, tiba-tiba ada orang yang
memutuskannya.
Terkadang, ketika sedang asyik
mendengarkan cerita ayahnya tiba-tiba
pengawal masuk dan memberitahukan ada
tamu penting yang harus ditemui
oleh raja. Sang raja tahu apa yang
dirasakan anaknya.
Maka, dia memberi nasihat kepada
anaknya, “Said, Anakku, sudah saatnya kamu mencari teman sejati yang
setia dalam suka dan duka. Seorang
teman baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang
bisa kau ajak bercinta untuk
surga.”
Said tersentak mendengar perkataan
ayahnya.
“Apa maksud Ayah dengan
teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanyanya dengan nada
penasaran.
“Dia adalah teman sejati
yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tatapi karena
kemurnian cinta itu sendiri, yang
tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaiumu karena Allah. Dan Dengan dasar
itu kau
pun bisa mencintainya dengan penuh
keikhlasan karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuaan dahsyat
yang membawa manfaat dan kebaikan.
Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk
surga.”
“Bagaimana cara mencari
teman seperti itu, Ayah?” tanya Said.
Sang raja menjawab, “Kamu
harus menguji orang yang hendak kau jadikan teman. Ada sebuah cara menarik
untuk menguji mereka. Undanglah
siapapun yang kau anggap cocok menjadi temanmu untuk makan pagi di sini, di
rumah kita. Jika sudah sampai di sini,
ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar.
Lihatlah kemudian apa yang mereka
perbuat. Saat itu, rebuslah tiga buitr telur. Jika dia tetap bersabar,
hidangkanlah tiga
telur itu kepadanya. Lihatlah, apa
yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu. Syukur jika
kau
bisa mengetahui perilakunya lebih dari
itu.”
Said sangat gembira mendengar nasihat
ayahnya. Dia pun mempraktekkan cara mencari teman sejati yang cukup aneh
itu. Mula-mula ia mengundang anak-anak
para pembesar kerajaan satu per satu. Sebagian besar dari mereka marahmarah
karena hidangnya tidak keluar-keluar.
Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang
memukul-mukul meja, ada yang
melontarkan kata-kata tidak terpuji, memaki-maki karena terlalu lama menunggu
hidangan.
Diantara teman anak raja itu, ada
seorang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat sepertinya Adil
anak
yang baik hati dan setia. Maka dia
ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang menunggu
keluarnya hidangan dengan setia.
Setelah dirasa cukup, Said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus.
Melihat itu, Adil berkata keras,
“Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!”
Adil tidak mau menyentuh telur itu.
Dia pergi begitu saja meniggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu
meminta
maaf kepada Adil karena meremehkan
makanan yang telah dia rebus dengan kedua tangannya. Dia mengerti bahwa
Adil tidak lapang dada dan tidak cocok
untuk menjadi teman sejati.
Hari berikutnya, dia mengundang anak
seorang saudagar terkaya. Tentu saja anak saudagar itu sangat senang
mendapat undangan makan pagi dari anak
raja. Malam harinya, sengaja ia tidak makan dan melaparkan perutnya agar
paginya bisa makan sebanyak mungkin.
Dia membayangkan makanan anak raja pasti enak dan lezat.
Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya
itu telah datang menemui Said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia menunggu
waktu yang lama sampai makanan keluar.
Akhirnya, Said membawa piring dengan tiga telur rebus di atasnya.
“Ini makanannya, saya ke
dalam dulu mengambil air minum.” Kata Said seraya meletakkkan piring
itu di
atas meja.
http://www.ash-shaff.org - Ash Shaff
Powered by Mambo Generated: 12 June, 2007, 08:06
Lalu, Said masuk kedalam. Tanpa
menunggu lagi, anak saudagar itu langsung malahap satu persatu telur itu. Tidak
lama kemudian, Said keluar membawa dua
gelas air putih. Dia melihat ke arah meja ternyata tiga telur itu telah lenyap.
Ia kaget.
“Mana telurnya?”
tanya Said pada anak saudagar.
“Telah aku makan.”
“Semuanya?”
“Ya, habis aku lapar
sekali.”
Melihat hal itu Said langsung tahu
bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dia tidak setia.
Tidak
bisa merasakan suka dan duka bersama.
Sesungguhnya, Said juga belum makan apa-apa.
Said merasa jengkel kapada anak-anak
di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan.
Tidak bisa merasakan suka dan duka
bersama. Akhirnya, Said meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman
sejati.
****
Akhirnya, Said berpikir untuk mencari
teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan,
ladang, sawah, dan kampung-kampung
untuk mencari seorang teman yang baik.
Sampai akhirnya, di suatu hari yang
cerah, dia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana.
Anak itu sedang memanggul kayu bakar.
Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba di gubuknya. Rumah dan
pakaian anak itu menunjukkan bahwa dia
sangat miskin. Namun, wajah dan sinar matanya memancarkan tanda
kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu
mengambil air wudhu, lalu shalat dua rakaat. Said memerhatikannya dari balik
rumpun pepohonan.
Selesai salat, Said datang dan
menyapa, “Kawan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu, namamu
siapa? Kau
tadi shalat apa?”
“Namaku Abdullah. Tadi itu
shalat dhuha.”
Lalu, Said meminta anak itu agar
bersedia bermain dengannya dan menjadi temannya.
Namun, Abdullah menjawab,
“Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak orang kaya, malah
mungkin anak
bangsawan. Sedangkan aku, anak miskin.
Anak seorang pencari kayu bakar.”
Said menyahut, “Tidak baik
kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeda-bedakan orang? Kita semua adalah
hamba Allah. Semuanya sama, hanya
takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak
yang jahat sehingga kau tidak mau
berteman denganku? Kau nanti bisa menilai, apakah aku cocok atau tidak menjadi
temanmu.”
“Baiklah kalau begitu, kita
berteman. Akan tetapi, dengan syarat hak dan kewajiban kita sama, sebagai teman
yang seia-sekata.”
Said menyepakati syarat yag diajukkan
oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama; pergi ke
hutan bersama ,memancing bersama, dan
berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di
sungai, menggunakan panah dan memanjat
pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang
cerdas, rendah hati, lapang dada dan
setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.
Hari berikutnya, anak raja itu
berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya
makan
di gubuknya. Dalam hati, Said merasa
kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan.
Di dalam gubuk itu, mereka makan seadanya,
sepotong roti, garam, dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat
lahap. Ingin sekali rasanya dia minta
tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang
mengujinya. Oleh karena itu, Said
merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.
Selesai makan, Said mengucapkan
hamdalah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak
menemukan hal-hal baru di hutan, yang
tidak dia dapatkan di dalam istana. Oleh temannya itu dia diajari untuk
mengenali dan membedakan jenis
dedaunan dan buah-buahan di hutan; antara daun dan buah yang bisa dimakan,
yang bisa dijadikan obat, serta yang
beracun.
“Dengan mengenal jenis buah
dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak akan repot jika suatu kali
tersesat.
Persediaan makanan ada di sekitar
kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.
Seketika itu, Said tahu bahwa ilmu
tidak hanya dia dapat dari madrasah seperti yang ada di ibukota kerajaan ilmu
ada di
http://www.ash-shaff.org - Ash Shaff
Powered by Mambo Generated: 12 June, 2007, 08:06
mana-mana. Bahkan, di hutan sekalipun.
Hari itu, Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.
Ketika matahari sudah condong ke
Barat, Said berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, Said
mengundangnya makan di rumahnya besok
pagi. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya itu.
“Pergilah ke ibu kota ,
berikan kertas ini kepada tentara yang kau temui di sana . Dia akan
mengantarkanmu ke
rumahku,” kata Said sambil
tersenyum.
“Insya Alloh aku akan
datang.” Jawab anak pencari kayu itu.
*****
Pagi harinya, anak pencari kayu sampai
juga di istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja.
Mulanya, dia ragu untuk masuk istana.
Akan tetapi, jika mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, dia
berani masuk juga.
Said menyambutnya dengan hangat dan
senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah hadir di ruang
makan itu. Said pun menguji temannya
ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu itu
sudah terbiasa lapar. Bahkan, dia
pernah tidak makan selama tiga hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah
saja.
Dia hanya berpikir, seandainya semua
anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tentram.
Selama ini, dia mendengar bahwa
anak-anak pembesar kerajaan senang hura-hura. Namun, dia menemukan seorang
anak raja yang santun dan shalih.
Akhirnya, tiga butir telur masak pun
dihidangkan. Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari
kayu bakar itu mengambil satu. Lalu,
dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan
menyantapnya. Lalu dengan sengaja Said
mengambil yang ketiga, mengupasnya dengan cepat dan melahapnya.
Temannya selesai mengupas telur. Said
ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebitur telur itu,
apakah akan dimakannya sendiri
atau….?
Anak miskin itu mengambil pisau yang
ada di dekat situ. Lalu, dia membelah telur itu jadi dua. Yang satu dia pegang
dan
yang satunya lagi, dia berikan kepada
Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu.
Lalu Said pun memeluk anak pencari
kayu bakar itu erat-erat seraya berkata. “Engkau teman sejatiku!
Engkau
teman sejatiku! Engkau temanku masuk
surga.”
Sejak itu, keduanya berteman dan
bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan meraka melebihi saudara kandung.
Mereka saling mencintai dan saling
menghormati karena Alloh swt.
Karena kekuatan cinta itu mereka
bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru
kepada para ulama yang tersebar di
Turki, di Syiria, di Irak, di Mesir dan di Yaman.
Setelah berganti bulan dan tahun,
akhirnya keduanya tumbuh dewasa. Raja yang adil, ayah Said meninggal dunia.
Akhirnya, Said diangkat menjadi raja
untuk menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah
Abdullah,
anak pencari kayu itu. Abdullah pun
benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada duanya.
Meskipun telah menjadi raja dan
menteri, keduanya masih sering malakukan shalat tahajud dan membaca Al-Quran
bersama. Kecerdasaan dan kematangan
jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur, dan jaya.---
baldatun thayyibatun wa Rabbun
Ghafur.---
Dikutip dari sebuah karya
Habiburrahman El Shirazy
Langganan:
Postingan (Atom)